Rabu, 05 September 2012

meresensi buku non fiksi mengenal tumbuhan lumut


Mengenal tumbuhan lumut
Judul buku                  :           Seri keanekaragaman tumbuhan lumut jilid 1 untuk pelajar
Penulis                         :           Arif Kurniawan
Penerbit                       :           Pustaka insan madani
Cetakan                       :           I
Tahun terbit                 :           2008
Jumlah halaman           :           vii + 95 halaman
Arif Kurniawan, beliaulah penulis buku tumbuhan lumut jilid satu ini. Beliau menjelaskan bahwa tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang biasanya sulit dibedakan oleh orang-orang banyak jika dibandingkan dengan tumbuhan paku seperti yang disajikan dalam bentuk gambar pada buku ini, yang nyaris saja membuat para pembaca akan menjadi bingung jika melihat gambar pada buku karangan Arif Kurniawan tersebut.
Ketika kita membaca buku tersebut, kita bisa mengenal isi buku dengan cara melihat judulnya saja pada setiap babnya sehingga kita dapat membayangkan pada setiap ulasan perjudulannya. Misalnya saja pada bab pertama berisikan sub judul pembahasan apakah lumut itu ?. Kata-kata yang tertuang pada judul tersebut, seakan-akan menjadi titik awal pertanyaan yang ada dalam benak pembaca. Terlebih lagi jika kita membaca materinya secara terperinci pada setiap point to the pointnya. Saat membaca bab pertama, saya bisa mengutip sedikit dari pada pembahasannya yakni “lumut merupakan tumbuhan yang habitatnya didarat, yang lembab atau basah. Serta hidup dengan melekat (epifit) dan ada pula yang epifil.
Dalam pengklasifikasian dan reproduksi lumut, Arif Kurniawan menjelaskan secara detail tentang sekema reproduksi lumut bahkan beliau menampil beberapa gambar yang memang sangat berkaitan dengan skema atau susunan reproduksi lumut itu sendiri. Pada tampilan gambar reproduksi lumut itu sendiri yang disajikan masih terlihat kurang jelas, yang dapat membuat para pembaca akan sedikit kebingungan dimana tampilannya masih terlihat sangat jelas titik-titik penyusun gambar komputer.
“Lumut mengalami metagenesis, yaitu suatu pergiliran keturunan antara fase sporofit dan gametofit. Sedangkan sporofit merupakan keturunan generatif, berupa badan penghasil spora yang disebut sporgonium. Sporofit ini tumbuh pada gametofit dan mendapat makanan darinya. Diujung sporofit terdapat pembesaran yakni sporangium (kotak spora) fase gametofit lebih dominan”. Beberapa kalimat tersebut merupakan kutipan dari pada bab dua dari buku tumbuhan lumut jilid satu ini.
Saat kami mengoreksi bab ketiga yang berjudul “spesies lumut di sekitar Kita”, Kami menemukan banyak sekali kata-kata yang sangat membantu dan memberikan ilmu pengetahuan akan nama-nama ilmiah pada aneka spesies tumbuhan lumut yang tergolong asing untuk kita dengar dalam kehidupan sehari-hari alias kata-kata baru dalam menyampaikan kandungan yang dimaksud untuk mencapai suatu tujuan dalam bab tersebut.
Hutan lumut dan lumut epifit merupakan suatu kata-kata yang sangat jarang kita dengar. Ternyata dua maksud rangakaian kata tersebut sangat sulit dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa tidak, lumut melakukan aktivitas dengan mengandalakan bantuan dari tempat berpijak. Begitulah simpulan yang dapat kami tarik dari pada pembahasan bab keempat tersebut yang dipaparkan secara panjang lebar oleh Arif Kurniawan.
Dibagian bab terakhir, kami menemukan judul bab berkaitan dengan mengoleksi lumut. Dalam pandangan kami, lumut selalu dianggap sebagai suatu tumbuhan yang mengganggu aktivitas manusia. Padahal dalam penyajian terakhir dari bab tersebut, lumut sebenarnya dapat dikoleksi baik berupa herbarium basah maupun herbarium kering. Arif kurniawan menjelaskan pula bahwa lumut yang dikoleksi terdiri atas tiga kelompok lumut yang paling penting pada sebuah taman lumut Ginkakuji temple, diantaranya VIP mosses lalu disusul Normal inhabitants dan yang terakhir The interrupter mosses.
Untuk mengoleksi sebuah lumut, kita harus memiliki atau mengambil sampel yang akan dikoleksi sehingga kita dapat membuat sebuah penelitian dan pameran yang berkaitan dengan lumut. Dalam penyajian materi sebelumnya, penulis terlalu banyak menjelaskan detail-detail yang tidak perlu seperti cara penulisan taksonomi tumbuhan atau pemberian nama ilmiahnya. Menurut Kami, penuliasn tersebut sebaiknya dijadikan catatan kecil saja pada bagian-bagian tertentu buku agar materi yang akan dibahas searah terhadap pengenalan tumbuhan lumut dan tidak melencing dari pada materinya seperti pada bab dua.
Lalu pada halaman tiga puluh sembilan, Kami menemukan dua buah kata yang tidak dispasi seperti “terdiri atas 1 lapissel” yang mestinya “terdiri atas 1 lapis sel”. Dari kekurangan tersebut sebenarnya bukanlah menjadi masalah besar tetapi jika akan dilakukan penerbitan kembali, kami berharap agar kata-kata yang salah tersebut dapat diperbaiki menjadi ejaan yang disempurnakan (EYD).
Pada halaman empat puluh enam terdapat sebuah renungan yang jika dikaitkan dengan materi awal sebenarnya kurang efektif. Namun hal tersebut membuat kami menjadi ragu akan penetapan hasil koreksi kami, yang akan menjuluki tulisan tersebut layak untuk dijadikan sebagai keunggulan terhadap pencitraan buku.
Tak sekedar itu, Arif Kurniawan juga menjelaskan bahwa orang-orang yang mempelajari hingga menamatkan sarjananya untuk lumut di Indonesia sangat-sangat sedikit, bahkan dapat dihitung dengan jari tangan kita. Ada satu kelebihan yang terdapat dalam buku ini yang memang sengaja untuk ditulis yakni dapat menjadi suatu kajian atau literatur dalam pembelajaran, khususnya para pelajar.
Tentunya kami berharap, semoga dengan adanya buku ini, dapat membantu siswa atau pelajar lainnya, untuk mengenal secara luas lumut itu sendiri, dan kami berharap semoga ditahun yang akan datang, buku ini dapat diterbitkan kembali dengan suatu gaya tulisan yang benar-benar lugas dan terlepas dari kesalahan kecil tersebut, dan Kami menantikan karya terbaru dari beliau guna menjadi kita pelajar yang lebih mengenal dan menyukai tumbuhan lumut.


Tidak ada komentar: